Sabtu, 28 Maret 2015

Petualangan Di Gua Kancing

Di siang hari yang sangat terik aku bekerja seperti biasa menyebar brosur prodak dari Perusahaan tempatku bekerja. Aku menyebarkan brosur itu mengelilingi sepanjang perumahan yang berada di kawasan kota Tuban. Setelah agak lelah dalam menjalani pekerjaan ini aku dan kawanku mencoba mencari tempat yang indah

Jumat, 27 Maret 2015

Jelajah Alam Sekitar (JAS) 

 



1. Pengertian Pendekatan Jelajah Alam Sekitar
Pendekatan JAS merupakan pendekatan kodrat manusia dalam upaya mengenali alam lingkungannya (Ridlo, 2005). Menurut Mariati dan Kartijono pendekatan pembelajaran jelajah alam sekitar (JAS) dapat didefinisikan sebagai pendekatan pembelajaran yang memanfaatkan lingkungan alam sekitar kehidupan peserta didik baik lingkungan fisik, sosial, teknologi maupun budaya sebagai objek belajar biologi yang fenomenanya di pelajari melalui kerja ilmiah.
Pembelajaran jelajah alam sekitar (JAS), membentuk siswa mengembangkan potensinya sebagai manusia yang memiliki akal budi. Penekanan kegiatan belajar yang dikaitkan dengan lingkungan sekitar kehidupan siswa dan dunia nyata, selain dapat membuka wawasan berfikir yang beragam, siswa juga dapat mempelajari berbagai macam konsep dan cara mengkaitkannya dengan masalah-masalah kehidupan nyata.
Jelajah alam sekitar, merupakan pendekatan yang kegiatannya selalu di kaitkan dengan alam sekitar secara langsung maupun tidak langsung. Hal tersebut di karenakan pendekatan jelajah alam sekitar (JAS) di dasarkan pada tiga ciri pokok yaitu:
1.      Selalu dikaitkan dengan alam sekitar secara langsung, tidak langsung maupun dengan menggunakan media.
2.      Selalu ada kegiatan berupa peramalan, pengamatan, dan penjelasan.
3.      Ada laporan untuk dikomunikasikan baik secara lisan, tulisan, gambar, foto, atau audiovisual.
Penerapan pendekatan JAS mengajak peserta didik mengenal obyek, gejala dan permasalahan, menelaahnya dan menemukan kesimpulan atau konsep tentang sesuatu yang dipelajarinya (Ridlo, 2005). Pendekatan jelajah alam sekitar (JAS), terdiri atas beberapa komponen yang seyogyanya dilaksanakan secara terpadu. Konseptualisasi dan pemahaman diperoleh siswa tidak secara langsung dari  guru atau buku, akan tetapi melalui kegiatan ilmiah, seperti mengamati, mengumpulkan data, membandingkan, memprediksi, membuat pertanyaan, merancang kegiatan, membuat hipotesis, merumuskan simpulan berdasarkan data dan membuat  laporan  secara komprehensif. Secara langsung, siswa melakukan eksplorasi terhadap fenomena alam yang terjadi.  Fenomena  tersebut dapat ditemui di  lingkungan sekeliling siswa atau fenomena alam sehingga akan sangat membantu siswa untuk mengamati sekaligus memahami gejala atau konsep yang terjadi.
Pendekatan JAS menekankan pada kegiatan belajar yang dikaitkan dengan lingkungan alam sekitar kehidupan  siswa dan dunia nyata, sehingga selain dapat membuka wawasan berpikir  yang beragam, siswa juga dapat mempelajari berbagai konsep dan cara mengaitkannya dengan masalah-masalah kehidupan nyata. Berdasarkan hal  tersebut, maka hasil belajar siswa akan lebih bermakna bagi kehidupannya,  sebagai makhluk Tuhan, makhluk sosial dan integritas dirinya.
 Pendekatan JAS dikembangkan berdasarkan pemikiran Piaget dan Vygotsky yang menekankan pada konstruktivisme kognitif dan sosial.  Seseorang akan lebih efektif dalam proses belajar jika kognitifnya secara aktif mengalami rekonstruksi, baik ketika berbenturan dengan suatu fenomena maupun kondisi sosial (Saptono, 2003). Sebagai   implikasinya, pembelajaran seharusnya memperhatikan pengembangan konseptual dan pemahaman siswa. Hal penting yang perlu diperhatikan dalam penerapan pengembangan konseptual dan pemahaman siswa adalah sebagai berikut:
1.      Guru bertindak sebagai fasilitator sekaligus motivator yang tercermin dalam kegiatan yang dikembangkan dalam pembelajaran.
2.      Pembelajaran memungkinkan siswa belajar dalam kelompok.
3.      Guru senantiasa berupaya memberikan kesempatan kepada siswa untuk  mengekspresikan kemampuan dan gagasannya, baik lisan, performance, maupun tulisan.
1.1.  Latar Belakang Pendekatan JAS
Dipilihnya pendekatan JAS sebagai pendekatan pembelajaran yang dianggap mampu menciptakan siswa yang produktif dan inovatif adalah dengan alasan-alasan berikut:
a)      Sejauh ini pelaksanaan pendidikan/pembelajaran Biologi masih didominasi oleh suatu kondisi kelas yang masih berfokus pada guru sebagai sumber utama pengetahuan, ceramah masih menjadi pilihan utama guru dalam mengajar, proses sain belum biasa dikembangkan dalam proses pembelajaran.
Pembelajaran masih menekankan pada hasil belajar dan bukan kegiatan untuk menguasai proses. Untuk itu perlu dipilih suatu pendekatan yang lebih memberdayakan siswa. Suatu pendekatan pembelajaran yang tidak mengharuskan siswa menghafal fakta-fakta, tetapi dapat mendorong siswa mengkonstruksikan fakta-fakta pengetahuan yang dia peroleh berdasarkan konsep atau prinsip Biologi melalui proses eksplorasi dan investigasi.
b)      Pendekatan pembelajaran JAS mengutamakan siswa belajar dari mengalami dan menemukan sendiri dengan memanfaatkan lingkungan fisik, sosial dan budaya yang ada disekitarnya.
c)      Tuntutan kurikulum bahwa hasil belajar peserta didik berupa perpaduan antara aspek kognitif, afektif dan psikomotor menuntut suatu pembelajaran yang menekankan keaktifan peserta didik secara fisik, mental, intelektual dan emosional.
1.2. Komponen-komponen Pendekatan JAS
Pendekatan JAS terdiri atas beberapa komponen yang seyogyanya dilaksanakan secara terpadu. Adapun komponen-komponen JAS adalah sebagai berikut:
a. Eksplorasi
Dengan melakukan eksplorasi terhadap lingkungannya, seseorang akan berinteraksi dengan fakta yang ada di lingkungan sehingga menemukan pengalaman dan sesuatu yang menimbulkan pertanyaan atau masalah. Dengan adanya masalah manusia akan melakukan kegiatan berpikir untuk mencari pemecahan masalah. Dalam memecahkan masalah tidak berdasar pada perasaan tetapi lebih ke penalaran ilmiah (Suriasumantri, 2000). Lingkungan yang dimaksud disini tidak hanya lingkungan fisik saja, akan tetapi juga meliputi lingkungan sosial, budaya dan teknologi.

b. Konstruktivisme
Pengetahuan dahulu dianggap sebagai kumpulan fakta. Akan tetapi sekarang, pendapat ini mulai bergeser, terutama di bidang sains, pengetahuanlebih dianggap sebagai suatu proses pembentukan (konstruksi) yang terus menerus, terus berubah dan berkembang (Suparno, 1997). Sarana yang tersedia bagi seseorang untuk mengetahui sesuatu adalah alat inderanya.
Seseorang berinteraksi dengan lingkungannya melalui alat inderanya, melihat, mendengar, menyentuh, mencium dan merasakannya. Menurut Lorsbach & Tobin (1992) dalam Suparno (1997), selama proses berinteraksi dengan lingkungan, seseorang akan memperoleh pengetahuan. Jadi pengetahuan ada dalam diri sesorang yang sedang mengetahui. Pengetahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari otak seseorang (guru). Paserta didik sendiri yang harus mengartikan pelajaran yang disampaikan guru dengan menyesuaikan terhadap pengalaman-pengalaman mereka sebelumnya. Dalam pembentukan pengetahuan, menurut Piaget (1970) terdapat dua aspek berpikir yaitu aspek figuratif dan aspek operatif. Aspek operatif lebih penting karena menyangkut operasi intelektual atau sistem transformasi. Berpikir operatif inilah yang memungkinkan seseorang untuk mengembangkan pengetahuannya dari suatu level tertentu ke level yang lebih tinggi.

c. Proses Sains
Proses sains atau proses kegiatan ilmiah dimulai ketika seseorang mengamati sesuatu. Sesuatu diamati karena menarik perhatian, mungkin memunculkan pertanyaan atau permasalahan. Permasalahan ini perlu dipecahkan melalui suatu proses yang disebut metode ilmiah untuk mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu. Menurut Huxley (1964), metode ilmiah merupakan ekspresi mengenai cara bekerjanya pikiran.
Sedangkan berpikir adalah suatu kegiatan mental yang menghasilkan pengetahuan. Pengetahuan yang diperoleh dengan metode ilmiah bersifat rasional dan teruji sehingga merupakan pengetahuan yang dapat diandalkan. Metode ilmiah menggabungkan cara berpikir deduktif dan induktif dalam membangun pengetahuan.  

d. Masyarakat Belajar (learning community)
Konsep learning community menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerjasama dengan orang lain. Hasil belajar diperoleh dari sharing antar teman, antar kelompok, antara yang tahu dengan yang belum tahu. Dalam kelas yang menggunakan pendekatan kontekstual, guru disarankan untuk melaksanakan pembelajaran dalam kelompok belajar.
Anggota kelompok sebaiknya yang heterogen, sehingga yang pandai dapat mengajari yang kurang pandai, yang cepat menangkap pelajaran dapat mendorong temannya yang lambat, yang mempunyai gagasan dapat mengajukan usul. Guru juga dapat melakukan kolaborasi dengan mendatangkan “ahli” ke kelas sebagai nara sumber sehingga peserta didik dapat memperoleh pengalaman belajar secara langsung dari ahlinya.
Masyarakat belajar dapat terbentuk jika terjadi proses komunikasi dua arah. Dalam masyarakat belajar, dua kelompok atau lebih yang terlibat komunikasi pembelajaran saling belajar. Seseorang yang terlibat dalam kegiatan masyarakat belajar memberi informasi yang diperlukan oleh teman bicaranya dan sekaligus juga minta informasi yang diperlukan dari teman belajarnya. Setiap pihak harus merasa bahwa setiap orang lain memiliki pengetahuan, pengalaman, atau keterampilan yang berbeda yang perlu dipelajari. Dalam praktek pembelajaran di kelas, masyarakat belajar dapat terwujud dalam:
·          pembentukan kelompok kecil
·          pembentukan kelompok besar
·          mendatangkan “ahli” ke kelas
·          bekerja dengan kelas sederajat
·          bekerja kelompok dengan kelas di atasnya
·          bekerja dengan masyarakat
e. Bioedutainment
Sebagaimana telah kita ketahui bahwa profesi pendidik akan tetap eksis apabila ada pembaharuan atau dinamika paradigma. Dimana pendekatan pembelajaran biologi terus berkembang sesuai perkembangan ilmu dasar dan terapan yang menyertainya. Biologi merupakan salah satu kajian ilmu strategis untuk dapat memahami tentang fenomena alam. Pengembangan biologi yang kompleks perlu diikuti dengan pendekatan pembelajaran yang mengarah pada pembekalan dan ilmu disertai sikap untuk mau belajar sepanjang hidup. Untuk itu pendekatan pembelajaran yang mengasyikan yang menghibur dan menyenangkan perlu dikembangkan secara konsisten.
Bioedutainment dimana dalam pendekatannya melibatkan unsur utama ilmu dan penemuan ilmu, keterampilan berkarya, kerjasama, permainan yang mendidik, kompetisi, tantangan dan sportivitas dapat menjadi salah satu solusi dalam menyikapi perkembangan biologi saat ini dan masa yang akan datang.
Melalui penerapan strategi pembelajaran bioedutainment, aspek kognitif, afektif dan psykomotorik pada diri siswa dapat diamati. Strategi bioedutainment menekankan kegiatan pembelajaran yang dikaitkan dengan situasi nyata, sehingga dapat membuka wawasan berfikir yang beragam dari seluruh peserta didik. Strategi ini memungkinkan seluruh peserta didik dapat mempelajari berbagai konsep dan cara mengaitkan dengan kehidupan nyata, sehingga hasil belajarnya lebih berdaya dan berhasil guna.
Pembelajaran biologi dengan menerapkan strategi bioedutainment memungkinkan peserta didik untuk menguatkan, memperluas dan menerapkan pengetahuan dan keterampilan akademik mereka dalam berbagai macam tatanan dalam sekolah dan luar sekolah agar dapat memecahkan masalah dunia nyata dan masalah yang disimulasikan.
Strategi pembelajaran bioedutainment dapat diterapkan di luar kelas (out door classroom) atau di dalam kelas (in door classroom), maupun di tempat pembelajaran lainnya dikaitkan dengan metode pembelajaran konvensional yakni ceramah, diskusi, permainan edukatif, eksperimen, bermain peran yang bersifat multi strategi dan multi media. Strategi pembelajaran biologi dengan pendekatan JAS bercirikan ekplorasi sumber daya alam serta eksplorasi potensi peserta didik. Pembelajaran bioedutainment dapat diterapkan pada semua standart kompetensi.
f. Asesmen Autentik
Asesmen adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar peserta didik. Bila data yang dikumpulkan guru mengidentifikasikan bahwa siswa mengalami kemacetan dalam belajar, maka guru bisa segera mengambil tindakan yang tepat agar siswa terbebas dari kemacetan belajar. Jadi asesment dilakukan selama proses pembelajaran, terintegrasi dalam kegiatan pembelajaran, bukan hanya pada akhir periode pembelajaran saja.
Pembelajaran yang benar ditekankan pada upaya membantu siswa agar mampu mempelajari, bukan ditekankan pada banyak sedikitnya informasi yang diperoleh pada akhir periode pembelajaran. Karena asesment menekankan pada proses pembelajaran, maka data yang dikumpulkan harus diperoleh dari kegiatan nyata yang dikerjakan siswa pada saat melakukan proses pembelajaran.
Kemajuan belajar dinilai dari proses, bukan semata-mata dari hasil. Penilaian autentik menilai pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa. Sebagai penilai tidak hanya guru, tetapi juga teman lain atau orang lain. Karakteristik penilaian autentik adalah:
a)      dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran
b)      bisa digunakan untuk formatif maupun sumatif
c)      yang diukur keterampilan dan performansi
d)     berkesinambungan
e)      terintegrasi
f)       dapat digunakan sebagai umpan balik
Hal-hal yang bisa digunakan sebagai dasar menilai prestasi siswa adalah:
proyek/kegiatan dan laporannya, pekerjaan rumah, kuis, karya siswa, presentasi atau penampilan siswa, demonstrasi, laporan, jurnal dan Dengan penilaian autentik dapat menjawab pertanyaan: “kemampuan apakah yang sudah dikuasai peserta didik?” bukan “apa yang sudah diketahui peserta didik?” Dengan cara ini siswa dinilai kemampuannya dengan berbagai cara, tidak hanya hasil tes tertulis saja.
Jadi pembelajaran JAS dilaksanakan dalam suasana yang menyenangkan, tidak membosankan, sehingga peserta didik belajar dengan bergairah. Pembelajaran
dilaksanakan terintegrasi, menggunakan berbagai sumber belajar sehingga pengetahuan peserta didik menyeluruh, tidak terpisah-pisah dalam tiap bidang studi.
Pembelajaran JAS menekankan pada siswa aktif dan kritis, jadi pembelajaran berpusat pada siswa, dipandu oleh guru yang kreatif hasil tes tertulis.


DAFTAR PUSTAKA
Marianti, A. dan N.E. Kartijono, 2005. Jelajah Alam Sekitar(JAS). Dipresentasikan pada Semiar dan   Lokakarya Pengembangan Kurikulum dan Desain Inovasi Pembelajaran Jurusan Biologi FMIPA UNNES dalam rangka pelaksanaan PHK A2. Semarang. Biologi FMIPA UNNES.
Marianti, A. dan N.E. Kartijono, 2005. Jelajah Alam Sekitar(JAS). Dipresentasikan pada
Semiar dan Lokakarya Pengembangan Kurikulum dan Desain Inovasi Pembelajaran
Jurusan Biologi FMIPA UNNES dalam rangka pelaksanaan PHK A2. Semarang.
Biologi FMIPA UNNES.
Marianti, A. 2006 . Jelajah Alam Sekitar (JAS) Suatu Pendekatan dalam Pembelajaran Biologi dan Implementasinya. Bunga Rampai Pendekatan Pembelajaran Jelajah Alam Sekitar (JAS) Upaya membelajarkan Biologi Sebagaimana Seharusnya Belajar Biologi. Penyunting A. Marianti. Jurusan Biolgi FMIPA UNNES.
Ridlo, S. 2005. Pendekatan Jelajah Alam Sekitar (JAS). Dipresentasikan pada Semiar dan Lokakarya Pengembangan Kurikulum dan Desain Inovasi Pembelajaran Jurusan Biologi FMIPA UNNES dalam rangka pelaksanaan PHK A2. Semarang. Biologi FMIPA UNNES.
Suparno, Paul. 1997. Filsafat Kontruktivisme Dalam Pendidikan. Yogyakarta: Kanisius.
Suriasumantri, S. Jujun. 2000. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. Pustaka Sinar Harapan. Jakarta.
Wibowo, Y. 2010. Bentuk-bentuk Pembelajaran Outdoor. Yogyakarta: Jurusan Pendidikan Biologi FMIPA UNY.

Kamis, 26 Maret 2015

Tentang Bouken No Arjun

Selamat datang di Blog Bouken No Arjun atau dalam bahasa indonesia bisa di bilang sebagai Petualangan si Arjun.Ya disini aku memang akan memuat segala hal yang akan terjadi dalam petualangann si Arjun ini. Awal dari ide pembuatan blog ini adalah ketika aku melihat blog dari teman yang bernama jelajah nesia.